Jangan Suka Mengutuk
Segala puji hanya bagi Allah S.W.T. semata. Shalawat dan salam
semoga selalu tercurah kepada seseorang yang tidak ada nabi sesudahnya.
Adapun sesudah itu:
Tidak diragukan lagi, sesungguhnya di antara tujuan risalah Islam
adalah membersihkan akhlak (budi pekerti), mensucikan jiwa, memurnikan
perasaan, menyebarkan cinta dan kasih sayang, serta semangat tolong
menolong dan rasa persaudaraan di antara kaum muslimin. Nabi S.A.W.
bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ'Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." ~ HR. Ahmad dan ath-Thabrani.
Ada penyakit besar yang tersebar di antara semua lapisan masyarakat
dalam berbagai usia dan tingkatan pendidikannya. Penyakit besar yang
anak kecil tumbuh atasnya, yang tua menaikinya, dan banyak disepelekan
oleh para orang tua dan anak-anak, laki-laki dan perempuan, pemuda dan
pemudi. Penyakit besar yang terlahir darinya sifat dengki, bangkitnya
sifat dendam, berhembuslah angin permusuhan dan kebencian disebabkannya.
Penyakit besar yang dimurkai oleh Rabb Azza Wa Jalla, mengeluarkan
hamba dari catatan orang-orang shalih dan memasukkannya dalam golongan
orang-orang durhaka yang fasik. Sesungguhnya ia adalah mencela, mengutuk
(melaknat), perkataan kotor, lisan yang keji. Maka engkau menemukan
seorang ayah mencela anak-anaknya dan mengutuk mereka, dan ibu juga
melakukan hal yang sama, sedangkan keduanya tidak menyadari bahwa hal
itu termasuk dosa besar dan kesalahan yang fatal. Dan engkau mendapatkan
seorang teman mencela temannya sendiri, lalu ia menjawab atasnya dengan
mencela ibu dan ayahnya. Sehingga seorang anak kecil, engkau
mendapatkan dia mulai membiasakan mencela dan mengutuk orang lain.
Terkadang ia melakukan hal itu kepada bapak dan ibunya, sedangkan
keduanya memandang kepadanya dengan rasa senang dan gembira.
Sesungguhnya wajib kepada setiap orang yang berakal agar selalu menjaga
lisanya dan tidak membiasakan mencela dan mengutuk, sampai kepada
pembantu dan anaknya yang masih kecil. Bahkan bersama apapun juga dari
benda padat atau hewan. Maka sesungguhnya ia tidak akan aman apabila ia
mencela seseorang manusia atau mengutuknya bahwa ia membalas seperti
ucapannya, atau menambahinya, lalu bangkitlah kemarahannya dan
menyeretnya kepada sesuatu yang tidak terpuji akibatnya. Berapa banyak
tindakan kriminal yang terjadi yang bermula dari kutukan dan celaan, dan
api besar berasal dari percikan api yang kecil.
Apabila ia mencela seorang manusia atau mengutuk seorang muslim, maka
sungguh ia telah menyakitinya. Dan Allah Subhanahu Wa Ta'Ala berfirman:
والذين يؤذون المؤمنين والمؤمنات بغير ما اكتسبوا فقد احتملوا بهتاناً وإثماً مبيناDan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu'min dan mu'minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. al-Ahzab:58)
Penyakit lisan:
Nabi S.A.W. bersabda:
سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ
"Mencela seorang muslim adalah fasik dan membunuhnya adalah tindakan kufur." Muttafaqun 'alaih.
An-Nawawi rahimahullah berkata: as-Sabb secara etimologi berarti: mencela dan berbicara tentang kehormatan manusia dengan sesuatu yang mencelanya. Dan al-Fisq
secara bahasa berarti keluar, dan yang dimaksud dengannya dalam
syari'at adalah keluar dari ketaatan. Maka mencela seorang muslim secara
tidak benar adalah haram berdasarkan ijma' umat dan pelakunya adalah orang fasik, seperti yang dikabarkan oleh Nabi S.A.W.' (Syarh Muslim: 2/241).
Maka apakah orang-orang yang melepaskan lisan mereka karena mencela
dan merobek kehormatan kaum muslimin membayangkan bahwa dengan hal itu
mereka menjadi orang-orang fasik yang keluar dari taat kepada Allah
S.W.T. dan rasul-Nya S.A.W.? Ketahuilah, hendaklah bertaqwa kepada Allah
S.W.T. orang-orang yang melepaskan lisan mereka hingga mendatangi
kebinasaan dan memetik kerugian. Nabi S.A.W. bersabda:
سِباَبُ الْمُسْلِمِ كَالْمُشْرِفِ عَلَى الْهَلَكََةِ
"Mencela seorang muslim adalah bagaikan orang yang mendatangi kebinasaan." HR. al-Bazzar dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani.
Ancaman bagi orang yang memulai mencela:
Sesungguhnya orang yang memulia mencela, dialah yang memikul dosa
sendirian, apabila orang yang dicela memaafkan atau membela diri sekadar
kezalimannya dan hal itu tidak melewati kepada sesuatu yang dizalimi.
Nabi S.A.W. bersabda:
اَلْمُسْتَبَّانِ مَا قَالاَ، فَعَلَى الْبَادِىِء مِنْهُمَا، مَالَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُوْمُ
"Doa orang yang mencela adalah menurut apa yang mereka
ucapkan, maka dosa atas orang yang memulia dari keduanya, selama yang
dizalimi tidak melewat batas." HR. Muslim.
Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan beberapa faedah sekitar hadits ini, di mana dia berkata:
- Maksudnya sesungguhnya dosa saling mencela yang terjadi di antara dua orang adalah khusus untuk yang memulai dari keduanya, kecuali orang kedua melewati batas atas dari sekadar membela diri, seperti ia mengatakan kepada yang memulia melebih apa yang dia ucapkan.
- Dan dalam hal ini boleh membela diri, dan tidak ada perbedaan tentang bolehnya dan sangat jelas dalil-dalil dari al-Qur`an dan sunnah. Firman Allah S.W.T.:
ولمن انتصر بعد ظلمه فأولئك ما عليهم من سبيلDan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosapun atas mereka. (QS. asy-Syura:41)
Dan firman-Nya S.W.T.:
والذين إذا أصابهم البغي هم ينتصرونDan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. (QS. asy-Syura:39)
- Kendati demikian, sabar dan memaafkan lebih utama. Firman Allah S.W.T.:
ولمن صبر وغفر إن ذلك لمن عزم الأمورTetapi orang yang bersabar dan mema'afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (QS. asy-Syura:43)
Dan bagi hadits yang disebutkan setelah ini:
وما زاد الله عبداً بعفواً إلا عزى
"Dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak menambah kepada hamba sifat maaf kecuali kemuliaan."
- Dan ketahuilah, sesungguhnya mencela seorang muslim dengan cara yang tidak benar adalah haram, sebagaimana sabda Nabi S.A.W.:
سباب المسلم فسوق
"Mencela seorang muslim adalah fasik."
5. Yang dicela tidak boleh membela diri kecuali dengan semisalnya
selama tidak bohong, atau menuduh berzinah, atau mencela pendahulunya.
Di antara gambaran yang dibolehkan dalam membela diri adalah dengan kata
(wahai orang yang zalim) (Wahai orang yang bodoh) (Wahai orang yang
tidak bersendal), atau semisal yang demikian itu. Karena tidak ada
seorang pun yang terlepas dari sifat-sifat ini.
6. Mereka berkata: apabila yang dicela membela diri, niscaya ia
telah membalas kezalimannya dan terlepas yang pertama dari haqnya, dan
tersisa atasnya dosa memulai, atau dosa kepada Allah S.W.T. (dari syarah
Shahih al-Bukhari).
Dan apabila yang dicela membalas dengan tindakan melampaui batas
niscaya dosa atas keduanya. Dari Iyadh bin Hamar r.a, ia berkata, 'Aku
berkata, 'Wahai Nabiyallah, seseorang mencelaku, sedangkan dia di bawah
aku, bolehkan aku membela diri darinya?' Nabi S.A.W. bersabda:
المستبان شيطانان يتهاتران، ويتكاذبان
"Dua orang yang saling mencela adalah syetan, saling bermusuhan dan berbohong." HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Al-Albani.
Di antara dosa-dosa besar:
Jauhilah –wahai saudaraku- bahwa engkau menjadi penyebab dalam
mencela kedua orang tuamu maka jadilah engkau seperti mencela keduanya.
Nabi S.A.W. bersabda:
إن من أكبر الكبائر أن يلعن الرجل والديه، قيل يارسول الله ! وكيف يلعن
الرجل والديه؟ قال : (( يسب أبا الرجل فيسب أباه، ويسب أمه فيسب أمه))
"Di antara dosa besar adalah seseorang mengutuk kedua orang tuanya.' Ada yang bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang mencela kedua orang tuanya? Beliau bersabda, 'Dia mencela bapak seseorang lalu ia mencela bapaknya, dan ia mencela ibunya lalu ia mencela ibunya." HR. al-Bukhari.
Dan sangat disayangkan bahwa hal itu banyak tersebar di antara
anak-anak kaum muslimin dan para pelajarnya. Ini –demi Allah S.W.T.-
membuktikan kemunduran dalam pendidikan dan kelalaian para wali yang
tidak mengajarkan kepada anak-anak mereka tentang keutamaan, akhlak yang
baik dan perilaku yang indah. Ini merupakan ancaman pada orang yang
menjadi penyebab dalam mencela ayah dan ibunya, tanpa mencela keduanya
secara langsung. Maka bagaimana kondisi orang yang mencela keduanya
dengan dirinya sendiri secara langsung, maka ia mencela dan mengutuk
keduanya, bahkan ada yang berani memukul keduanya, tidak ada daya dan
upaya kecuali dengan pertolongan Allah S.W.T.
Penyakit mengutuk:
Adapun mengutuk, maka sungguh terhadap ancaman keras dari Nabi S.A.W. Beliau S.A.W. bersabda:
لعن المؤمن كقتله
"Mencela seorang muslim adalah seperti membunuhnya." Muttafaqun 'alaih.
Renungkanlah wahai saudaraku besarnya dosa membunuh seorang mukmin
dan beratnya dosanya, serta gambaran hukuman yang diberikan Allah I
atasnya berupa siksaan, kutukan dan kemurkaan di dunia dan akhirat,
niscaya engkau mengetahui dengan hal itu bahaya mengutuk dan terus
menerus padanya. Firman Allah S.W.T.:
ومن يقتل مؤمناً متعمداً فجزاءوه جهنم خالداً فيها وغضب الله عليه ولعنه وأعد له عذاباً عظيماًDan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannnya ialah jahannam, Kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS. an-Nisaa`:93)
Ini adalah balasan pembunuh seorang mukmin yang Nabi S.A.W
menyerupakan orang yang mengutuknya dengannya, maka dosa apakah ini? dan
kesalahan apakah itu? Dan Nabi S.A.W menjelaskan bahwa seorang mukmin
yang sempurna imannya tidak akan menjadi orang yang suka mengutuk. Nabi
S.A.W bersabda:
لا يكون المؤمن لعاناً
"Seorang mukmin tidak menjadi orang yang suka mengutuk." HR.
at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani. Karena itulah Nabi
S.A.W melarang tindakan saling mengutuk, beliau S.A.W bersabda:
لا تلاعنوا بلعنة الله، ولا بغضبه ولا بالنار
"Janganlah kamu saling mengutuk dengan kutukan Allah S.W.T, tidak pula dengan murka-Nya, dan tidak pula dengan api." HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi dan ia berkata: hasan shahih.
Dan Nabi S.A.W mengabarkan turunnya kedudukan orang-orang yang suka mengutuk di hari kiamat, beliau SA, bersabda:
لا يكون اللعانون شفعاء ولا شهداء يوم القيامة
"Orang-orang yang suka mengutuk tidak akan menjadi pemberi syafaat dan tidak pula menjadi saksi di hari kiamat." HR. Muslim.
An-Nawawi rahimahullah memberikan komentar tentang hadits ini: 'Dalam
hadits ini merupakan ancaman mengutuk, dan sesungguhnya orang yang
berperilaku dengannya, tidak adalah padanya sifat yang indah, karena
mengutuk dalam doa dimaksudkan dengannya dijauhkan dari rahmat Allah
S.W.T Doa dengan ini bukan termasuk akhlak orang-orang beriman yang
digambarkan oleh Allah I dengan sikap saling menyayangi di antara mereka
dan tolong menolong di atas kebaikan dan taqwa,
dan menjadikan mereka bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu
sama lainnya, dan seperti satu jasab. Dan sesungguhnya seorang mukmin
mencintai saudaranya apa-apa yang dia sukai untuk dirinya sendiri. Dan
barangsiapa yang mendoakan atas saudaranya yang muslim dengan kutukan
–yaitu dijauhkan dari rahmat Allah S.W.T.- itulah puncak boikot dan
saling membelakangi. (Syarh Shahih Muslim 16/364).
Dan Nabi S.A.W. berpesan kepada Jamudz al-Juhani ra, beliau S.A.W. bersabda:
أوصيك ألا تكون لعاناً
"Aku berpesan kepadamu bahwa janganlah engkau suka mengutuk." HR. ath-Thabrani dan dishahihkan oleh al-Albani.
Dan Salamah bin Akwa' berkata: 'Apabila kami melihat seseorang
mengutuk saudaranya, kami melihat bahwa ia telah mendatangi satu pintu
dari dosa besar."
Kemanakah perginya kutukan itu?
Apakah engkau mengetahui wahai orang yang suka mengutuk, sesungguhnya
kutukanmu naik ke atas langit, lalu penghuni langit berlari darinya
karena takut akan menimpa mereka? Apakah engkau mengetahui bahwa ia
turun ke bumi setelah itu, lalu berlarianlah semua makhluk darinya
karena takut akan menimpa mereka? Apakah engkau mengetahui bahwa ia
pergi setelah itu ke kiri dan kanan hingga menemukan orang yang pantas
mendapatkannya? Apakah engkau mengetahui bahwa ia kembali kepadamu
apabila orang yang dikutuk tidak berhak mendapatkan kutukanmu? Dari Abud
Darda' , ia berkata, 'Rasulullah S.A.W. bersabda:
'Sesungguhnya apabila seorang hamba mengutuk sesuatu, naiklah
kutukan itu ke atas langit, lalu ditutup pintu-pintu langit karenanya.
Kemudian turun ke bumi, lalu ditutup pintu-pintunya karenanya. Kemudian
ia mengambil kanan dan kiri, maka jika ia tidak menemukan tampat,
niscaya ia kembali kepada yang dikutuk, jika ia pantas menerimanya, dan
jika tidak niscaya ia kembali kepada yang mengucapkannya.' HR. Abu Daud dan dinyatakan hasan lighairih oleh al-Albani.
Maka karena apakah engkau memikul dosa besar ini atas dirimu –wahai
saudaraku- dan kenapa engkau terus melakukan dosa besar ini? Dan kenapa
engkau tidak membiasakan lisanmu dengan doa untuk putra-putrimu sebagai
pengganti laknat dan kutukan untuk mereka? apakah engkau tidak merasa
khawatir bahkan kutukanmu itu kembali kepadanya dan di saat waktu yang
dikabulkannya doa, lalu engkau terusir dari rahmat Allah S.W.T., dan
jadilah engkau termasuk orang yang dijauhkan lagi terusir? Apakah engkau
tidak merasa takut bahwa engkau bertemu Allah S.W.T. dengan lisan yang
diulurkan pada kehormatan kaum muslim? Apakah engkau tidak merasa
khawatir bahwa kebaikan dan keburukanmu dalam timbangan yang sama, lalu
datanglah kutukanmu, maka timbangan keburukanmu menjadi lebih banyak
lalu engkau masuk neraka karenanya?
Menutup lorong-lorong mengutuk:
Sesungguhnya sebagian manusia tidak selamat darinya sehingga benda
padat dan hewan. Maka engkau melihat dia mencela, mengutuk, dan memukul
segala sesuatu di sekitarnya. Karena itulah Nabi S.A.W. menutup segala
celah yang membawa kepada mencela dan mengutuk. Beliau S.A.W. melarang
mencela atau mengutuk segala sesuatu yang tidak pantas untuk dikutuk,
sekalipun hewan atau benda padat. Dari Imran bin Hushain ra, ia berkata,
'Saat Rasulullah S.A.W. berada di salah satu perjalanannya, dan seorang
wanita dari kaum Anshar berada di atas untanya, lalu ia membentak dan
mengutuknya. Maka Rasulullah S.A.W. mendengar hal itu lalu bersabda:
خُذُوْا مَا عَلَيْهَا وَدَعُوْهَا، فَإِنَّهَا مَلْعُوْنَةٌ
"Ambilah apa yang ada di atasnya dan tinggalkannya ia, maka sesungguhnya ia telah terkena kutukan."
Imran ra berkata: Maka seolah-olah aku melihatnya sekarang berjalan di
tengah-tengah manusia, tidak ada seorangpun yang menolehnya. HR. Muslim.
An-Nawawi rahimahullah berkata: Sesungguhnya beliau S.A.W. mengatakan
hal itu sebagai bentakan untuknya dan selainnya, dan ia dan selain dia
sudah pernah dilarang mengutuk, maka ia diberikan sangsi dengan
melepaskan unta. Maksudnya adalah larangan baginya menyertakan unta itu
di dalam perjalanan. (Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi: 16/363. Dan
Nabi S.A.W. bersabda:
لاَ تَسُبُّوا الدِّيْكَ فَإِنَّهُ يُوْقِظُ للِصَّلاَةِ
"Janganlah engkau mencela ayam jantan, maka sesungguhnya ia membangunkan untuk shalat." HR. Abu Daud dan Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh al-Albani.
Sesungguhnya keagungan Islam agar berhias dalam pengarahan tata krama
yang tinggi ini, yang menjaga hak binatang secara jasmani dan maknawi,
dan yang mengharamkan segala bentuk menyakiti dengan cara yang tidak
benar. Andaikan para penyeru penyayang binatang mengetahui keutamaan
Islam dalam masalah ini, dan andaikan mereka mengakui untuk Islam yang
telah lebih dulu dalam bidang ini, yang mereka merasa bangga dengannya
dan mengira bahwa mereka adalah orangnya. Dari Ibnu Umar ra,
sesungguhnya seorang laki-laki mengutuk angin di sisi Rasulullah S.A.W.,
maka beliau S.A.W. bersabda:
لاَ تَلْعَنِ الرِّيْحَ فَإِنَّهَا مَأْمُوْرَةٌ، مَنْ لَعَنَ شَيْئاً لَيْسَ لَهُ بأهْلٍ، رَجََعتِ اللَّعْنَةُ عَلَيْهِ
"Janganlah engkau mengutuk angin, maka sesungguhnya dia
melaksanakan perintah. Barangsiapa yang mengutuk sesuatu yang tidak
pantas niscaya kutukan itu kembali kepadanya." HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani.
Dan dari Jabir ra, sesungguhnya Nabi S.A.W. berkunjung kepada Ummu Saib, lalu beliau S.A.W. bersabda: "Kenapa engkau mengeluarkan nafas panjang? Ia menjawab: Demam, semoga Allah S.W.T. tidak memberikan berkah padanya." Beliau S.A.W. bersabda:
لاَتَسُبِّي الْحُمَى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ الُخبث
'Janganlah engkau mencela demam, maka sesungguhnya ia menghilangkan kesalahan keturunan Adam A.S. sebagaimana ubupan (alat peniup api) tukang besi menghilangkan karat." HR. Muslim.
Dari penjelasan terdahulu jelaslah bahwa Islam berusaha agar seorang
mukmin bersih lisan, manis tutur kata, indah ucapan, tidak ada sesuatu
yang menjelekkannya, dan tidak ada yang menodai kehormatannya.
Hukum mengutuk kepada seseorang secara khusus:
Tidak diragukan lagi, sesungguhnya seorang mukmin yang tertentu tidak
boleh mengutuknya saat hidup dan matinya, berdasarkan dalil-dalil yang
telah kami sebutkan sebagiannya. Adapun orang kafir secara tertentu,
maka tidak boleh mengutuknya jika ia tidak mati di atas kekufuran,
karena ia tidak tahu apakah kesudahannya nanti. Tidak ada alasan
mendoakan seseorang mati di atas kekafiran. Dan hal itu ditunjukkan oleh
hadits Ibnu Umar ra, sesungguhnya Rasulullah S.A.W. berdoa di hari
perang Uhud: 'Ya Allah, kutuklah Abu Sufyan, ya Allah kutuklah Harits
bin Hisyam, ya Allah kutuklah Sahal bin Amr, ya Allah kutuklah Syafwan
bin Umayyah." Lalu turunlah ayat:
ليس لك من الأمر شيء أو يتوب عليهم أو يعذبهم فإنهم ظالمون
Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau
Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya
mereka itu orang-orang yang zalim. (QS. ali Imran:128)
Maka Allah S.W.T. menerima taubat mereka. HR. Ahmad dan at-Tirmidzi. Dan dalam riwayat al-Bukhari: 'Ya Allah, kutuklah fulan dan fulan."
Maka apabila tidak boleh mengutuk orang kafir secara khusus yang belum
mati di atas kekufuran, maka demikian pula tidak boleh mengutuk orang
fasik secara khusus atau orang zalim secara khusus tentu lebih utama
lagi. Namun boleh melakukan hal itu dengan menyebut sifat-sifat secara
umum, seperti dikatakan: Semoga Allah S.W.T. mengutuk para pezina, atau
terhadap para pembohong, dan semisal yang demikian itu. (lihat kitab:
Akhlaqud diniyyah, karya Abdurrahman al-Jaziri, hal 111).
Nabi S.A.W. telah mengutuk beberapa golongan orang-orang yang durhaka
tanpa menentukan, seperti orang yang bertato dan yang minta ditato,
wanita yang menipiskan kening dan yang meminta hal itu, pemakan riba dan
yang mewakilkannya, peminum arak, muhallil (yang menikahi wanita agar dia bisa kembali kepada mantan suaminya yang telah menceraikannya dengan talak tiga) dan muhallal lah
(mantan suami wanita tersebut), dan selain mereka yang sangat banyak.
Adapun orang yang diyakini wafatnya di atas kekufuran seperti Fir'aun,
Abu Jahal dan selain keduanya maka boleh mengutuknya. Seorang muslim
harus membersihkan lisannya dari mencela dan mengutuk kecuali apabila
adalah kepentingan khusus.
Adab Salafus Shaleh:
Saudaraku yang tercinta, generasi salaf
dari umat ini lebih bersemangat dari pada kita di atas kebaikan. Karena
itu mereka sangat menjauhi mencela dan mengutuk, dan membersihkan lisan
mereka dengan berzikir, bersyukur, berdoa, memuji, dan membaca
kitabullah. Dan di antara yang diriwayatkan dari mereka dalam hal itu
adalah:
1. az-Zuraiqan berkata: Aku berada di sisi Abu Wail, lalu aku mencela
Hajjaj dan menyebutkan keburukannya. Maka Abu Wail berkata: 'Tahukah
kamu, barangkali ia berkata: Ya Allah, ampunilah aku, lalu Dia S.W.T.
mengampuninya.'
2. Ashim bin Abi Najud berkata: Aku belum pernah mendengar Abu Wail
saudara Ibnu Salamah mencela manusia dan tidak pula binatang.
3. al-Mutsannan bin Shabah berkata: selama empat puluh tahun Wahab bin Munabbih tidak pernah mencela sesuatu yang punya ruh.
4. Dari Salim, ia berkata: Ibnu Umar ra tidak pernah mencela
pembantunya kecuali satu kali, lalu ia memerdekakannya. Janganlah engkau
menjadi penolong syetan terhadap saudaramu.
5. Dari Ibnu Mas'ud, ia berkata: 'Apabila engkau melihat saudaramu
melakukan dosa, maka janganlah engkau menjadi penolong syetan atasnya.
Kamu mengatakan: Ya Allah, hinakanlah dia, ya Allah kutuklah dia, akan
tetapi mohonlah afiyah kepada Allah S.W.T. Maka sesungguhnya kami para
sahabat Muhammad S.A.W., kami tidak mengatakan sesuatu kepada seseorang
sampai kami mengetahui bagaimana wafatnya. Maka jika ia ditutup dengan
kebaikan, kami mengetahui bahwa ia telah mendapatkan kebaikan. Dan jika
ia disudahi dengan keburukan niscaya kami merasa khawatir terhadap amal
perbuatannya.
6. Diriwayatkan bahwa Abu Darda ra melewati orang yang melakukan
dosa, maka mereka mencelanya, maka Abu Darda ra berkata kepada mereka:
Bagaimana pendapatmu jika kamu menemukannya di dalam sumur, bukanlah
kamu mengeluarkannya? Mereka menjawab: tentu. Ia berkata: Maka janganlah
kamu mencela saudaramu, dan pujilah Allah S.W.T. yang telah
menyelamatkanmu.' Mereka bertanya: Apakah engkau membecinya? Ia
menjawab: Saya membenci perbuatannya, maka apabila ia meninggalkannya
maka dia adalah saudara saya.'
Jika kaum muslimin melaksanakan muamalah dengan akhlak yang mulia
ini, jiwa yang bersih, dan dada yang lapang niscaya berubahlah kondisi
mereka dan besarlah pengaruh mereka pada diri mereka dan selain mereka
dari non muslim. Ketahuilah, hendaklah kaum muslimin kembali kepada
akhlak nubuwah dan adab kerasulan, agar kembali kemuliaan mereka kepada
mereka, dan jadilah mereka umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia,
seperti para pendahulu mereka.
Semoga rahmat dan kesejahteraan Allah S.W.T. selalu tercurah kepada nabi kita Muhammad S.A.W., para keluarga dan sahabatnya ra.
Posting Komentar